Editor : Redaksi
|
Reporter : TIM

Matalineindonesia.com-Realisasi pekerjaan rehab rumah bantuan bencana seroja di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur patut diduga tidak menjawab kebutuhan rakyat korban bencana seroja. Pelaksanaan pekerjaan di lapangan diduga hanya mengejar volume kerja untuk memenuhi syarat hitung-hitungan diatas kertas (administrasi).

Akibatnya, anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat senilai 57,5 Miliar Rupiah tidak menjawab kebutuhan 3.118 rakyat korban bencana seroja yang menerima bantuan rehab rumah tersebut.

Logika sederhana, pemerintah pusat menggelontorkan anggaran sebesar itu untuk membantu rakyat yang huniannya (rumah tinggalnya) rusak akibat bencana seroja yang terjadi pada awal April 2021.

Bantuan tersebut diberi tema rehab, dengan tiga kategori sesuai tingkat kerusakan. Rehab ringan untuk tingkat kerusakan ringan, rehab sedang untuk tingkat kerusakan sedang dan rehab berat untuk tingkat kerusakan berat atau kehilangan hunian.

Mantan Kalak BPBD, Gabriel Seran, dalam sebuah video yang diunggah ke akun youtube Bidik Tv sekitar akhir Agustus hingga awal September 2022 meminta para kontraktor untuk mengerjakan item pekerjaan yang harga satuannya besar. Misalnya, kata Gabriel, lebih baik kerja plester ketimbang pasang keramik karena harga satuan plester lebih besar ketimbang keramik.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.